Ku tatap kaki ku dikegelapan malam yang sunyi tanpa bintang, ku rasakan dinginnya angin berbalut salju menerpa tubuh ku yang kurus. Aku berjalan tanpa aku tahu harus kemana aku membawa kaki ku yang rentan ini. Aku lelah aku lapar dingin dan berdarah. TUHAN! jika kau memang ada di dunia ini berikanlah aku sup yang hangat dengan roti. Hanya itu yang aku minta. Apa permintaan ku ini tidak terdengar oleh Mu Tuhan? Ya.. itu sangat mungkin karena salju ini mulai bertiup dengan kencang dan menghancurkan suara yang muncul. Angin yang kencang menusuk tulang ku. Aku mencoba untuk tetap menjaga Hakeem anjing ku tetap di belakang ku agar dia tidak tertempa oleh dinginnya salju ini. Aku benar-benar mati rasa hingga aku sudah tidak dapat merasakan tubuh ku lagi. Oh.. Mama.. aku ingin bersama mu saat ini. Aku benar-benar tidak dapat merasakan apa-apa. Bahkan aku sudah tidak tahu apakah kaki munggil ku ini masih setia untuk berjalan atau tidak, Entahlah. Hingga semuanya berubah menjadi gelap, yaa.. benar-benar gelap, aku ingin memanggil anjingku tapi entah mengapa mulut ini tak sanggup untuk bicara, aku diam dan ingin menangis. Tiba-tiba aku merasa hangat hangat yang di mulai dari ujung kaki ku trus naik perlahan hingga badan dan kepala ku, entah mengapa aku pun tidak tahu. Aku merasakan nyaman yang belum pernah aku rasakan seumur hidup ku. Ini benar-benar belum pernah ku rasakan dalam hidup ku. Hingga aku melihat setitik kecil cahaya di ujung pengelihatan ku. cahaya ini membesar dan mendekati ku. Aku tak tahu kenapa hanya saja aku tiba-tiba dilanda rasa gembira yang mengalir dalam tibuh ku aku merasa begitu bahagia dengan sendirinya. Cahaya itu datang menghampiri ku dan melingkupi ku, aku merasa damai, damai yang tak terlukiskan, kupejamkan mata ku perlahan dan aku melihat sesosok wanita di hadapan ku yang berjalan mendekati ku begitu harum dan mendamaikan, perlahan ia pun terduduk dan menatapku
"Mama?"
"apakah engkau mama?"
"Iya nak.. Ini mama"
aku tak tahu harus bagaimana ini kebahagiaan yang melampaui apa yang bisa selama ini aku rasakan.
"Nak, bangunlah dan ikut dengan mama".
Aku tak dapat berbicara sepatah katapun, aku hanya menurutinya untuk berusaha bangkit. Aku mencari hakeem tapi aku tak dapat melihat dia sejauh aku dapat melihat.
Aku hanya berjalan dan memegang erat tangan mama yang hangat.
Berjalan dalam damai dan ketenangan.
Dalam Cahaya yang tak terbatas jumlahnya.
Selamat tinggal Hakeem!
Aku akan merindukan mu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar